4 comments on “Secuil Dalil Tentang Peusijuk

  1. TEPUNG TAWAR UNTUK PARA PEMIMPIN BANGSA
    Posted on April 3, 2010 by vaprakeswara
    Rate This

    PEMIMPIN JUGA MANUSIA, KADANG TERLINTAS PIKIRAN DUSTA, KATA TAK BIJAK, PRILAKU NISTA. “TEPUNG TAWAR” MUNGKINKAH BISA MENJADI OBAT PENYAKIT BAGI MEREKA?

    Om Awignamastu Namasiddham,

    Begitu banyak masalah yang dihadapi akibat pelanggaran-pelanggaran dalam pesta demokrasi “contreng” 2009, seakan mencoreng wajah demokrasi di negri ini. Kecurangan yang terjadi menandakan bahwa bagsa ini lupa akan kejujurannya, lupa akan dasar Negara pancasila, atau bahkan lupa “Ketuhanan Yang Maha Esa”, dimana sebagaian tokoh yang terjun dalam dunia politik tidak malu lagi akan dosa dari kebohongan-kebohongan, yang bahkan mengatasnamakan Tuhan. Semoga tepung tawar bias mengingatkan para pemimpin yang hanya memperjuangkan nasibnya sendiri.

    Tepung tawar merupakan salah satu sarana upacara dalam Agama Hindu yang berfungsi sebagai pembersih. Penggunaan tepung tawar dalam suatu upakara merupakan sebuah keharusan baik dalam manusa yadnya, dewa yadnya, bhuta yadnya, Rsi Yadnya maupun pitra yadnya. Karena demikian pentingnya unsur tepung tawar ini dalam setiap upacara keagamaan Hindu, maka Tradisi matepung (bertepung) tawar sejak zaman dahulu telah menjadi tradisi Nusantara yang berlangsung bahkan mungkin sebelum kedatangan Hindu di Nusantara.

    Hal ini terbukti dengan masih lestarinya upacara tepung tawar ini diberbagai daerah seperti Aceh, Medan, Riau, Lampung, Kalimatan, Nusa Tenggara apalagi Bali. Secara umum mereka melaksanakan adat tepung tawar ini untuk perkawinan maupun ada bencana. Bahkan di Nusa Tenggara upacara tepung tawar digunakan untuk mendamaikan dua desa yang sedang berselisih. Di Bali tepung tawar menjadi salah satu komponen dalam upacara agama Hindu, bahkan hingga saat ini seluruh umat Hindu menggunakan tepung tawar terutama dalam banten untuk panca yadnya. Jika dilihat dari bahan tepung tawar ditiap-tiap daerah umumnya berbeda-beda, namun tujuannya sama yaitu berfungsi sebagai pembersih dan menolak bala. Bahan tepung tawar ada yang manggunakan beras dicampur kunyit, dedaunan seperti sirih, jeruk, dan sebagainya.

    Dalam upacara agama Hindu Bahan tepung tawar adalah berupa beras yang direndam dtumbuk halus bersama daun dadab. Pada umumnya tepung tawar ini ditempatkan pada pesucian atau penyeneng, bersama dengan segau, kekosok, sesarik dan benang tukelan (benang dari kapas asli). Jika dilihat semua bahan itu berfungsi sebagai pembersih. Hal ini jelas tersirat pula dalam mantra dari tepung tawar:

    “Om Sajnya asta sastra,empu sarining tepung tawar amunahaken, segau agluaraken sebel kandel lara roga baktan-Mu”.

    Artinya kurang lebih:

    “ Om Hyang Widdhi dengan kuasa delapan kekuatan-Mu, tepung tawar memusnahkan abu nasi (segau), mengeluarkan kotoran yang lekat, kedukaan dan penyakit para penyembah-Mu”.

    Dalam uraian tersebut jelas bahwa daun dadap mengandung asta sastra yang disamakan dengan asta aiswarya yang dapat melenyapkan:

    1. Sebel Kandel atau kotoran yang melekat dalam diri manusia. mengacu pada Keputusan Seminar Kesatuan Tafsir Terhadap Aspek-aspek agama Hindu yang disyahkan PHDI adalah: Suatu keadaan tidak suci menurut pandangan Agama Hindu yang disebabkan karena: kematian, menstruasi, melahirkan anak, keguguran kandungan, pawiwahan/ perkawinan, gamia-gamana, salah timpal, hamil diluar nikah, berzina, bayi lahir di mana ayah-ibunya belum/ tidak menikah, sakit gede (lepra, aids).

    Di samping itu dalam ajaran Agama Hindu disebutkan ada sepuluh kotoran yang lekat pada diri manusia yang hendaknya selalu dibersihkan, antara lain:

    Tandri (malas), kleda (suka menunda-nunda), teja (pikiran gelap), kulina (sombong,suka menghina/ menyakiti hati orang), kuhaka (keras kepala), metraya (sombong dan berbohong/ melebih-lebihkan), megata (kejam), ragastri (suka berzina), bhaksa bhuwana (suka membuat orang lain melarat), & kimburu (senang menipu)

    Selain Dasa Mala juga ada Tri Mala yaitu tiga macam kotoran dan kebatilan jiwa manusia akibat pengaruh negatif dan nafsu yang sering tidak dapat terkendalikan dan sangat bertentangan dengan etika kesusilaan. Antara lain: Mithya hrdya (berperasaan dan berpikiran buruk), Mithya wacana (berkata sombong, angkuh, tidak menepati janji), Mithya laksana (berbuat yang curang / culas / licik /merugikan orang lain)

    2. Lara yaitu kedukaan atau kesedihan yang dialami setiap orang, atau dapat pula dikatakan penderitaan, yang dialami dalah kehidupan ini seperti yang disebutkan dalam Wrhaspatti Tattwa sebagai berikut:

    Nihan tang adhyatmika siddhi ngaranya,
    ika wang humilangaken ikang duhka telu,
    ndya ta yang duhka telu ngaran, adhyatmika duhka,
    adhibhautika duhka, adhidaivika duhka.
    (Wrhaspatti Tattwa, 33)

    Artinya:

    Inilah yang disebut adhyatmika sidhi Orang yang dapat menghilangkan tiga sumber derita (penyakit). Tiga sumber derita itu adalah adhyatmika duhka (derita yang penyebabnya berasal dari dalam diri), adhibhautika duhka (derita yang penyebabnya berasal dari luar diri), adhidaivika duhka (derita yang penyebabnya berasal dari karma pada penjelmaan di masa-masa lampau).

    3. Roga, penyakit yang diderita yang biasa terjadi bila keseimbangan dan keharmonisan dari ketiga unsur tri dosha terganggu, yang menyebabkan fungsi dari sistem yang ada di dalam tubuh akan terganggu. Keadaan inilah yang menyebabkan timbul suatu vyadhi (penyakit) dan keadaan yang demikian disebut roga (sakit).

    Menurut Ayurveda, prinsip utama dalam menjaga keseimbangan unsur tri dosha agar tubuh tetap svasthya atau sehat ada tiga hal pokok atau upasthamba yang harus dilakukan, yaitu:

    · Ahara, melakukan diet seimbang. Makan dan minum sesuai kebutuhan, baik dalam kuantitas maupun kualitas. Bila keadaan dilanggar, maka keseimbangan ketiga unsur tri dosha akan terganggu dan akan mengakibatkan sistem jaringan ubuh terpengaruh, kekebalan tubuh tidak seimbang akhirnya tubuh menjadi sakit.

    · Nidra, tidur nyenyak. Dalam sehari sebaiknya tidur kurang lebih selama sepertiga hari. Dengan tidur nyenyak sistem jaringan tubuh dapat mengadakan pemulihan, sehingga badan menjadi segar setelah jaga. Bila kurang tidur mmaka unsur pitta akan meningkat, yang menyebabkan gangguan terhadap keseimbangan tri dosha dalam tubuh, yang mengakibatkan fungsi sistem jaringan tidak optimal, akhirnya tubuh menjadi sakit.

    · Vihar, prilaku, gaya hidup yang alami. Maksudnya gaya hidup yang tidak alami ini adalah merokok berlebihan, minum alkhohol hingga mabuk, sering bergadang semalamann, sering berkelahi, sedih berlarut-larut, melakukan senggama berlebihan dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh, sehingga kuman penyakit gampang masuk ke dalam tubuh.

    Mengapa daun dadap dipilih sebagai bahan tepung tawar? Daun dadap adalah sejenis tanaman atau tumbuhan berupa pohon. Batang ada yang berduri dan ada yang halus. Daun tiga bersatu dan berbentuk belah ketupat. Secara tradisional daun dadap berguna untuk mengobati beberapa penyakit Bagian yang Digunakan Daun dan kulit kayu. Nama Latin Erythrinae Folium; nama local Daun Dadap Serep. Daun dadap memiliki kegunaan mengatasi demam, pelancar ASI, sariawan perut, mencegah keguguran (obat luar), nifas (obat luar), perdarahan bagian dalam (obat luar), sakit perut (obat luar). Kulit kayuberguna untuk : Batuk, Sariawan perut.

    Daun dadap disebut juga kayu sakti, hal ini mungkin sekali terkait karena kegunaannya. Disamping itu ada cerita tantric yang berkembang yaitu tentang ikan gabus yang melakukan tapa dibawah pohon dadap. Karena ketekunannya akhirnya permohonannya dikabulkan oleh Hyang Widdhi. Maka segeralah ikan gabus ini menjelma menjadi seekor trenggiling yang hidupnya didarat. Jika dikupas secara seksama maka ada tiga komponen penting dalam cerita tadi yaitu telaga atau kolam, ikan gabus, pohon dadap, dan klesih atau trenggiling.

    Telaga adalah lambang dunia ini, ikan gabus mewakili sifat rajas dan tamas, dimana kita ketahui bersama bahwa ikan gabus sangat rakus makannya, karena itu ia tergolong predator. Pohon dadab tempatnya bertapa mengandung makna hati-hati atau waspada, artinya waspada terhadap sifat-sifat buas dan selalu eling. Klesih adalah gambaran manusia yang telah mencapai pencerahan, ia tidak lagi rakus seperti ikan gabus, kemanapun pergi selalu meninggalkan suara atau pesan dharma. Apabila ada bahaya ia menggulung badannya sendiri seperti bola, hal ini bermakna introspeksi diri atau melakukan koreksi kedalam diri. Sedangkan istilah tepung tawar bermakna bahwa segala yang bersifat negative, hanya bisa ditawarkan atau dinetralkan, bukan dihapuskan. Baik dan buruk merupakan bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan ini, namun sebagai manusia kita bisa merubah sifat buruk kita menjadi lebih baik. Tepung sendiri berasal dari buah padi, padi lambang Dewi Sri, dewi kemakmuran , buah itu Phala, jadi harus ada niat menjaga agar alam ini selalu lestari kesuburannya, membawa kemamkmuran bagi setiap insan.

    Hal ini tentu merupakan tugas yang cukup berat bagi kita agar mampu melayani Tuhan dengan melayani umatn-Nya (Madawa sewa Manawa Sewa) Dengan demikian maka yang diharapkan dari upacara tepung tawar itu adalah meruwat, mengubah dari sifat yang kurang baik menjadi lebih baik. Inilah yang harus selalu diusahakan oleh setiap orang agar selama hidupnya didunia ini selalu mengalami perubahan kearah kemajuan, baik dalam urusan dunia maupun dalam urusan rohani, atau gelar urip dan gelar patinya hendaknya seimbang. Terlebih lagi para pemimpin kita yang saat ini tengah sibuk memperjuangkan nasibnya agar bila melenggang ke kursi legislative, atau bahkan menjadi orang nomor satu di Indonesia. Jika para pemimpin menghayati dan meresapi bahkan mengambil hikmah dari filosofis tepung tawar dalam kehidupan ini, niscaya akan menjadi pemimpin yang sehat lahir batin menuju mokshartam jagadhita, bukan hanya bagi dirinya tetapi bagi bangsa yang rindu akan pemimpin yang membawa kemakmuran bagi negri ini.

    Om Santih, santih, santih Om

  2. maaf…
    isi hadits mengenai pernikahan fatimah jauh berbeda dari yang saya ketahui selama ini…
    dapatnya dari mana?
    Di kesimpulan dikatakan adat2 hindu yang dulu maka di islamkan setelah datangnya islam.
    maka peusijuk yang dilakukan Hindu dahulu di ganti dengan menyebut nama tuhan. Boleh begitu ya?
    ada dasarnya gak…
    klo gitu kita sudah meniru hindu donk, cuma beda merk aj. Naudzubillah…
    bukankah barang siapa yg menyerupai suatu kaum maka ia termasuk kdalam golongan tersebut.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s